Laman

4 Dec 2011

Galau

Kali ini aku benar-benar merasa galau.. Dia akhirnya datang kembali ke kota kembang, ini kedua kalinya dia datang ke kota ini, untuk menemuiku. Sebenarnya sudah beberapa kali dia mengutarakan maksudnya untuk datang, namun aku selalu saja mengelak dan menghindarinya. Itu aku lakukan karena aku tidak ingin dia menganggap selama ini aku memberi harapan palsu untuknya, aku hanya menganggapnya sebagai teman, tidak lebih.

Kedatangannya kali ini membawa misi. Misi yang membuatku galau. Ini semua disebabkan karena keisengan Mas Vando yang mengomentari status facebookku beberapa hari lalu, dia pun ikut mengomentari status itu.Selang tak berlama lama setelah dia mengomentari statusku, dia menelponku. Namun sengaja tidak aku angkat telponnya. kemudian  via whatsup dia mencoba untuk mengklarifikasi statusku itu, dia menanyakan mengenai komentar dari Mas Vando. Aku pun mengatakan bahwa saat ini aku sedang dekat dengan seorang cowo (seperti yang  disarankan oleh Mas Hillman). Mas Vando dan Mas Hillman, mereka berdua adalah teman seperjuanganku di Bandung, mereka tak hanya sekedar rekan kerja, namun sudah kuanggap sebagai kakak.
Dan keesokan hari, dia meneleponku kembali, sengaja tidak kuangkat, ku acuhkan saja, karna saat itu aku sedang dikejar deadline untuk laporan realisasi 2 mingguan bagi Es-1. Namun, hp ku terus saja berdering dan konsentrasikupun buyar. Akhirnya aku angkat telepon darinya. Aku katakan padanya bahwa aku sedang sibuk dan tidak bisa diganggu karna sedang di kejar deadline, aku langsung menutup teleponku. Selang 30 menit kemudian dia menelponku lagi. Sumpah, rasanya pengen banget teriak dan marah-marah sama dia, kenapa sie dia itu selalu memaksa. Akhirnya dengan terpaksa aku angkat lagi telepon dari dia dan menanyakan apa yang sebenarnya yang ingin dia bicarakan.

Syok, kaget, marah, campur aduk semuanya... saat mendengar bahwa dia akan datang ke kotaku sore ini juga.Langsung aja aku bilang "Emang mas besok ga kerja? Ngapain sie mas kesini??"
"Mas cuma mau bilang sesuatu hal yang dari dulu pengen banget mas utarain ke kamu de, tapi ade selalu ga ada waktu buat ketemu mas.." kata dia.
"Kan bisa ngomonginnya lewat telepon ajah, kenapa sie harus kesini dan bela-belain buat bolos kantor??" jawabku.
"Mas pengen bilang langsung sama kamu de, bisakan malam ini kita ketemu?? tanyanya.
" Aku ga bisa, aku juga ga mau ketemu sama mas, kalau memang mas mau ketemu sama aku, hari Sabtu aja oke??" ujarku.
"Ngga, mas pengen sekarang... Mas pengen tahu siapa cowo itu, mas pengen ketemu sama dia.."
Oh My God, gimana mau ketemu sama cowo itu, sedangkan saat ini ga ada cowo yang dekat denganku. Kalaupun ada, hanya seseorang yang aku kagumi...
"Terserah mas deh, yang jelas aku ga akan mau ketemu mas...udahlah omongin sekarang aja...aku lagi dikejar deadline!! "tegasku.
"Hm.. sebenernya mas pengen langsung nyatain sama kamu de, ga lewat telepon kaya gini. Mas cuma mau bilang, mas ingin hubungan yang serius.Tapi kita ga pacaran, mas ingin kita taaruf."
Aku terdiam, mematung...
"De....???"
"Eh... iya mas...."
"Gimana jawabanmu De.?"
"Ehmm... maaf mas, aku ga bisa, aku selama ini anggap mas hanya sebatas teman, ga lebih... "
"Mas tau ini terlalu cepat buatmu De, tapi Mas ngerasa  nyaman sama kamu de.., mas kasih kamu waktu buat berpikir de.. Mas sore ini ke sana ya..."
"Terserah mas deh... tapi aku ga bisa mas.. aku cuma anggap mas temen aja... Mas, aku mau kerja lagi.. Assalamualaikum.."

Hm... taaruf, kata-kata itu dulu sempat terbesit di pikiranku, dan aku ingin sekali taaruf, tapi aku malah melepaskannya begitu saja.

Dan hari ini dia dateng ke kotaku. Aku pun menemuinya, namun aku mengajak Teh Nur dan Mas Khidir. Aku ga mau sendirian.. Seperti yang aku bayangkan sebelumnya, dia menyatakan niat baiknya itu, namun aku menolaknya. Aku menolaknya karena ada beberapa pertimbangan, aku belum merasakan nyaman bersama dirinya dan belum memiliki perasaan sayang yang lebih dari sekedar teman. Seperti yang Mas 103 katakan, antara cinta dan logika, maka aku akan lebih memilih dan mengusahakan cintaku terlebih dahulu.

Maaf mas, aku belum bisa menerima rasa yang kau berikan untukku.

No comments:

Post a Comment