La Tahzan Mi
"Menikahimu tak semata untuk kesenangan, melainkan mendidik keturunan | hewan mati tinggalkan badan, kita mati mesti tinggalkan iman.. Namun wajar bila hendak bersenang, satu-dua lagu akan kudendang | susah senang selalu berkelang, asal ada kau di sisi akupun tenang.. maafkan aku bila sering tersalah, terkadang kata keluar tak terarah | engkau ajarkan arti berserah, yaitu kepada-Nya kita pasrah.. Bersamamu telah hitungan tahun, keluarga sakinah coba kita susun | aku ingin bersama lagi beberapa kurun, walau itu sesulit di gurun.. mungkin satu saat aku akan lupa, ingatkan aku dengan segera | bahwa pernah kutulis barisan kata, untuk menyatakan apa yang kurasa.. Bila boleh kita meminta, itu harus yang berharga | apakah permintaan itu terkira, bila meminta Allah satukan kita dalam surga?"
Baca email ini, aku terenyuh.. aku yang lagi ngambek sama si Binduth seketika luluh. Baru kali ini Binduth ngirim kata-kata seperti ini walaupun aku tau itu copas dari blog yg lainnya. Tetapi setidaknya dia sudah berusaha. Sore ini dia pulang ke Bandung. Setelah hampir 1 minggu kami tak berjumpa. Perjuangan kami masih panjang, saat ini masih berpisah jarak, namun kami yakin, suatu saat kami akan bersatu. Ya Rab, mudahkanlah niat baik kami.. Miss U Nduth... Pengen cepet-cepet ketemu..
NB : Buat si Ndut udah aku siapin pancake durian dan fuyunghai kesukaanmu..
No comments:
Post a Comment