Laman

5 Feb 2011

Kisah secuil hidupku hingga akhirnya terdampar di Bandung

Malam ini, aku terdiam di sudut kamarku, kamar yang sudah 5 bulan ini tidak aku tempati. Terlintas dipikiranku kejadian itu. Kejadian yang menyebabkanku memilih jalan yang sekarang aku tempuh. Ah andai saja kejadian itu tak ada, mungkin aku masih disini, dikamar ini, kuliah S1'ku mungkin saat ini sudah selesai, dan yang pasti aku bisa lebih lama bersama keluargaku. Setiap keputusan memang harus kita ambil segala resikonya. 


Awal mula kejadian itu, tepatnya bulan Januari 2009. Saat itu aku sedang menjalin kasih dengan seseorang yg sedang kuliah di Jogja, hubungan kami hampir berjalan 2 tahun 2 bulan, waktu yang cukup lama dalam sebuah hubungan LDR (Long Distance Relationship). Sayangnya hubungan kami sedang renggang, mungkin karna kami sibuk dengan kuliah kami, sehingga komunikasi pun jarang. Tiba-tiba muncullah dia, anggap saja R. R adalah teman kuliah ku saat itu. Aku dekat dengannya saat kelas kami mengadakan acara keakraban. Setelah acara tersebut R semakin sering menghubungiku baik itu via sms ataupun via telepon. Semakin lama kami semakin dekat, ya kami jalan bareng tapi tak hanya berdua saja, kami bersama dua orang teman yang lainnya, anggap saja mereka T dan E. Saat itu aku hanya menganggap bahwa kami berempat bersahabat. Tak lebih daripada itu. Semakin lama hubunganku dengan kekasih semakin renggang. Aku semakin sibuk dengan sahabat-sahabatku dan kuliahku. Hingga akhirnya suatu hari R menembakku, dia menyatakan cintanya. Padahal dia tau keadaanku saat itu. Aku masih bersama dengan kekasihku. Ku akui, ku sempat goyah dan tergoda, karna aku merasakan perhatian yang R berikan padaku lebih besar dibandingkan dengan perhatian kekasihku. Namun, tak mungkin aku khianati kekasihku yang berada nun jauh disana. Tak mungkin ku hancurkan kisah cintaku yang sudah ku rajut bersama dengannya selama 2 tahun lebih. Saat itu aku merasa bersalah kepada kekasihku. Akhirnya ku katakan kepada R, bahwa aku tak bisa bersamanya. Aku masih menjalin status dengan kekasihku, dan aku masih sayang dengannya. Lagipula aku sudah nyaman dengan persahabatan ini, aku takut nanti akan merusaknya. Tapi ternyata keputusanku telah menyakiti hatinya. Ia perlahan-lahan semakin jauh dan tak pernah berbicara lagi denganku. Kami bagaikan orang yang tak pernah kenal. Sepertinya dia sangat membenciku. Aku berusaha untuk berbicara dengannya, mengirimi dia sms, dan menelpon dia, untuk meminta maaf. Namun, semua itu percuma saja. Dia benar-benar marah denganku. 


Aku bukanlah seseorang yang bisa marah dalam waktu yang lama. Aku juga tidak suka dengan adanya pertengkaran. Dan ini yang membuatku menjadi tidak betah berlama-lama di kampus. Aku menjadi tidak fokus dengan kuliahku. Suatu hari kekasihku datang dari Jogja, aku sangat bahagia sekali. Karna akhirnya dia dapat menyempatkan waktunya untukku. Saat itu, aku benar-benar membutuhkan kehadirannya disampingku untuk memberikan semangat. Aku bukanlah tipekal orang yang introvet. Aku selalu menceritakan semua hal yang terjadi pada diriku. Termasuk kisahku dengan R. Sungguh di luar dugaan, ternyata kekasihku tidak marah saat aku menceritakan kisahku dengan R. Aku berterimakasih kepada Tuhan, karna Tuhan telah memberikanku seorang kekasih yang baik hati dan meu menerima aku apa adanya. Namun anehnya, teman-temanku tak percaya bahwa kekasihku tidak marah. Mereka bilang, ada sesuatu yang ganjal. Entahlah aneh atau tidak, yang penting aku bahagia dan senang, bisa berada di sisinya. 

Beberapa hari kemudian setelah kejadian itu, kekasihku pergi untuk sholat Jum'at. Dia lupa meninggalkan HPnya. Tiba-tiba hati kecilku berkata "ayo, coba kamu buka smsnya, siapa saja orang-orang yang smsan dengannya?". Aku pun akhirnya tergoda, ku buka smsnya satu-persatu dan ternyata sms tersebut dari teman cewenya, sebut saja K. Yang membuat aku kaget, tertegun, dan kecewa adalah kata-kata mesra pada sms itu. Ya, kata-kata yang tak pernah dia katakan kepadaku. Aku hanya terdiam dan menangis (oh betapa lemahnya diriku). Kemudian dia datang, dia bingung dan kaget, karna HPnya ada padaku. Saat itu aku hanya bertanya "siapa K?kenapa kata-kata mereka begitu mesra?sejak kapan dekat dengan K?" Akhirnya dia mengakui, K adalah teman dekatnya, teman mesra dia, dia kenal dengan K sebelum aku bertemu dengannya, dan mereka dekat sejak bulan Januari ini. Oh Tuhan...hatiku tercabik-cabik saat itu, bagaikan tersambar petir di siang bolong. Pantas saja saat itu komunikasi kami menjadi renggang. Inikah karmaku Tuhan?

Saat itu entah siapa lagi yang harus aku percaya...yang jelas aku kecewa dengannya. Disaat yang sama pula, orang tuaku mengetahui hubungan dengan kekasihku ternyata masih berlanjut. Mereka marah denganku. karna aku masih saja berhubungan dengan dia. (Sebenarnya saat awal kami pacaran, orang tuaku memang tidak menyetujui hubungan kami. Karna dia orang seberang, dan orang tuaku khawatir suatu saat aku akan diboyong oleh dia ke pulau seberang). 

Lengkap sudah masalahku saat itu. Sahabat yang aku butuhkan dia pergi menjauhiku, aku menjadi tak betah dengan keadaan kampus, orang yang aku sayang , ternyata telah mengkhianatiku, dan aku malu karna aku telah mengecewakan .orang tuaku. Saat itu yang aku pikirkan adalah, bagaimana aku bisa jauh dari mereka. Dari teman kampusku, dari kekasihku, dan dari keluargaku. |aku pikir dengan menjauhi mereka hidupku akann tenang. Akhirnya ku coba untuk mendaftar pada sebuah institusi. Dan alhamdulillah aku lolos, ditempatkan sesuai dengan penempatan yang aku inginkan. Namun pada saat aku mendapatkan kabar baik itu, hubunganku dengan sahabatku, keluarga dan kekasihku pun membaik. 

Ah...kenapa, saat aku mendapatkan pekerjaan ini, hubunganku dengan mereka malah membaik? Hingga saat ini aku menyesal dengan keputusanku saat itu. Sebenarnya pekerjaan ini bukanlah pekerjaan yang aku impikan. Tetapi aku yakin, Allah telah menggariskan dan menggambarkan sesuatu hal yang memang indah pada waktunya nanti. 

Setelah mendapat berita bahwa aku diterima oleh institusi tersebut, tak lama kemudian aku bertemu kembali dengan kekasihku. Sebenarnya kalian pasti merasa aneh. Kenapa setelah aku dikhianati olehnya, aku tetap bersamanya? Ada beberapa alasan aku masih tetap bersamanya. Saat aku menanyakan padanya mengapa dia khianati aku, dia katakan bahwa selama ini aku jarang menghubunginya, aku terlalu posesif, dan karna aku dia sengaja melambatkan kelulusannya (temanku bilang itu hanyalah alasan dia saja). Tetapi karna saat itu aku sedang mengalami cinta buta, maka aku mengalah dan aku akui kesalahanku saat itu. Namun tak beberapa lama kemudian aku mendengar dia selingkuh lagi. Ah hati ini benar-benar hancur. Saat aku mulai menata hatiku untuknya, saat aku mencoba untuk lebih intens lagi berkomunikasi dengannya, saat aku mencoba untuk tidak terlalu posesif lagi dan saat aku memberikan semangat untuknya agar dia cepat lulus. Ah semua itu sia-sia belaka. Dia tetap tak berubah. Dia meminta maaf kepadaku dan berjanji tidak akan melakukannya lagi. Akupun lagi-lagi memaafkan kesalahannya. Selama ini aku masih menjalin hubungan dengannya hanya sebatas, janjiku kepada keluarganya bahwa aku akan terus berada disampingnya hingga dia wisuda nanti. Sayangnya aku gagal menepati janjiku. Orang tuaku mengetahui bahwa aku masih menjalin hubungan dengan dia. Mereka marah besar, terutama ayahku. Saat itu aku berada dalam keputusan yang sulit, antara cintaku ataukah orang tuaku. Hingga aku mendapatkan jawaban dari sebuah grup komunitas di FB, pendiri grup tersebut mengulas mengenai keadaan seperti yang aku alami saat ini. Kata-kata yang aku ingat adalah "saat ini mungkin kamu sangatlah mencintai kekasihmu, tetapi kalian barulah mengenal beberapa tahun saja. Dan belum tentu nantinya kalian akan berjodoh. Tetapi ingatkah orang tua kalian?beliau mencintai kalian saat kalian belum lahir sampai saat ini, dan cinta mereka takkan pernah putus di tengah jalan." Mungkin inilah jawaban dari Allah melalui grup ini. Dan akhirnya ku putuskan untuk melepaskannya. Walaupun pada saat itu, aku merasakan berat sekali melepas dia. Aku berharap dia mengerti akan keputusan yang ku ambil ini. Alhamdulillah sampai saat ini hubungan kami masih baik-baik saja, walaupun hanya sebatas teman.

Mengenang kejadian tersebut, ada beberapa hal yang aku dapatkan :

1. Jangan pernah rusak persahabatan dengan yang namanya cinta, aku harus bisa melihat manakah yang benar-benar menganggapku sahabat, atau hanya sebatas ingin mendekatiku.

2. Jangan berikan cintamu 100% hanya untuk kekasihmu, berilah 40% saja, agar suatu saat jika kau terluka, kau tidak terlalu merasa sakit dan kehilangan dirinya.

3. Jangan posesif terhadap kekasihmu, beri ia sedikit kelonggaran agar ia tidak merasa terkekang. Cobalah untuk saling percaya.

4. Jangan pernah ada niatan untuk mengkhianati kekasihmu, karna karma itu ada dan berikanlah kekasihmu privasi, karna mereka membutuhkan-nya sama seperti halnya dirimu.

5. Sayangi keluargamu, karna mereka selalu ada saat kita sedih ataupun senang. (Aku baru mengerti arti keluarga saat aku jauh dari mereka, Jika masih ada waktu untuk bersama mereka manfaatkanlah semaksima mungkin).

6. Yakinlah dengan Allah SWT, dengan semua rencana-rencananya, Karna Allah Maha Mengetahui dan Allah akan memberikan yang terbaik untuk kita.

*cerita ini hanyalah fiktif belaka, apabila terdapat kesamaan dalam cerita maupun nama tokoh, hanyalah kebetulan saja... :D



No comments:

Post a Comment